its Farah Farce

Dialah Farah Farce, seorang remaja cerdik berusia 15 tahun yang sudah pandai berbisnis. Remaja kelahiran 22 April 1995 bernama asli Farah Kemala Qurratu’aini ini telah memulai usaha mengimpor produk-produk fesyen bermerek dari berbagai negara di Asia sejak duduk di bangku kelas 9 SMP. Hebatnya, bisnis tersebut ia lakukan tanpa modal.

Kisah ini berawal dari kesukaan Farce akan produk branded sneakers. Ia rela berburu sneakers hingga harus memesannya dari luar negeri melalui teman yang baru ia kenal saat mengikuti bimbingan belajar. Karena menggunakan sistem pre order, Farce harus menunggu pesanannya tersebut. Setelah menunggu cukup lama, pesanan sneakers yang ia nanti-nantikan tersebut tak kunjung datang. Farce akhirnya geram dan menanyakan kembali pesanannya ke sang penjual. Bukannya memberikan solusi, si penjual yang kala itu juga masih duduk di kelas 9 SMP malah meminta Farce untuk menghubungi langsung ke importir aslinya yang ternyata juga berdomisili di Indonesia. “Aku kaget, Aku pikir orangnya (penjual sneakers) perantara langsungnya dari sana. Tapi ternyata dia juga melalui perantara di sini,” jelas Farce.

Farce mengembangkan senyum setelah sneakers yang ia pesan dari temannya itu ia terima. Ia juga merasa sneakers pertamanya tersebut sulit ditemui di pasaran Indonesia. Dari situlah Farce melihat sebuah peluang bisnis. “Kenapa engga gue jualin juga ini di sini?” Pikirnya. Berbekal kepercayaan diri yang tinggi, Farce pun akhirnya menawarkan diri kepada sang importir untuk mau bekerja sama dengannya.

Farce yang sejak SD sudah hobi berjualan, memulai bisnis pertamanya dengan melalukan pemasaran melalui situs jejaring sosial, Facebook. Ia memajang foto-foto produknya dengan teaser khas bahasa anak sekolahan. Tak ayal, “masa percobaan” yang diberikan sang importir dalam sebulan berhasil dilewati Farce dengan menjual ± 15 pasang sepatu impor.

Drop Ship

Dalam perjanjian bisnisnya, Farce menawarkan sistem drop ship kepada sang importir. Drop ship merupakan sistem perdagangan yang paling banyak digunakan oleh para pedagang online Indonesia. Sistem drop ship memberikan kemudahan bagi para pedagang online yang tidak memiliki modal yang besar atau bahkan tidak bermodal. Mereka hanya perlu melakukan pemasaran seluas-luasnya. Saat pesanan datang, mereka dapat meminta para pembeli melakukan pembayaran di muka. Jika pesanan dan pembayaran sudah diterima, para pedagang online tersebut tinggal melakukan pesanan ke para supplier. Pengemasan dan pengiriman ke para pembeli sepenuhnya dilakukan oleh supplier.

Ia telah berhasil melakukan perdagangan langsung dengan beberapa pemasoknya di Cina, Inggris, Singapura, Vietnam dan Thailand

Berbeda dengan Farce. Meski dirinya juga melakukan sistem drop ship dalam bisnisnya, ia tetap melakukan quality control sebelum produk-produk yang berhasil dijualnya dikirimkan ke alamat pembeli. “Gimana pun semua barang harus transit ke rumah aku dulu. Setelah aku cek barang ini bagus, baru aku kirim ke alamat pembeli. Kalau barangnya jelek, aku kembalikan ke sana. Jadi prosesnya dari supplier di luar negeri, ke rumah aku, baru ke alamat pembeli. Aku engga mau jualan barang jelek sampe mengecewakan pelanggan,” tegasnya.

Kini Farce tak lagi mengandalkan importir yang ia kenal pertama kali saat memulai bisnisnya. Ia telah berhasil melakukan perdagangan langsung dengan beberapa pemasoknya di Cina, Inggris, Singapura, Vietnam dan Thailand. Produk-produknya pun beragam, tak hanya sneakers, Farce juga sudah mulai merambah beberapa merek produk-produk fesyen lainnya. Yang ia nanti kini adalah kesuksesan..

***

Mentoring Pemasaran Oleh Jaya Setiabudi

Inilah Farce. Selain pandai berbisnis, ia juga cerdik bergaul. Tak hanya di dunia nyata, ia juga memanfaatkan Twitter sebagai alat untuk memperkenalkan dirinya kepada para pengusaha dan motivator terkenal.

Ia ingin tahu caranya orang hebat berusaha, Farce yang menggunakan username @farceee iseng-iseng membaca timeline Twitter seorang milyuner inspiratif, Bong Chandra. “Waktu itu gara-gara ada orang yang retweet tweet-nya Bong Chandra. Nah, aku baca deh tuh timeline-nya Bong Chandra,” cerita Farce. Dari timeline Twitter Bong Chandra, secara tak sengaja Farce akhirnya menemukan profil Putu Putrayasa, Nyoman Sukadana, Joe Hartanto, dan Citra Hafiz lalu berkenalan via Twitter. Setelah berkenalan dengan para pengusaha tersebut, tak lama kemudian Citra Hafiz yang akhirnya mengenalkan Farce melalui Twitter kepada Director of Young Entrepreneur Academy, Jaya Setiabudi.

Perkenalan Farce dengan Jaya Setiabudi sangat singkat dan hanya melalui media online. Namun, Farce sepertinya berhasil membuat Jaya Setiabudi terpukau karena usianya yang sangat belia namun sudah memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat. Pantas saja jika penulis buku ‘The Power of Kepepet’ tersebut hingga mau memberikan mentoring langsung tentang dunia pemasaran kepada Farce.

Farce kini semakin “pede.” Apalagi ia memiliki cita-cita ingin berkuliah ke Eropa tanpa bantuan dari orang tuanya. Ia merasa usahanya harus lebih giat lagi hingga dalam waktu dekat ini Farce akan segera merilis sebuah merek sepatu yang diberi label “Farce” yang akan ia distribusikan ke seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, remaja yang seminggu lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-16 tahun ini juga telah dipercaya seorang pengusaha untuk mengurusi sebuah Event Organizer yang khusus menyelenggarakan pesta sweet seventeen. Bagaimana dengan Anda?

from http://glowupmagazine.com

Posted in Business Stories | Leave a comment

Meraih Sukses di USIA MUDA

Berdasarkan website dari Kickandy.com

Jumat, 11 Maret 2011 21:30:00 WIB
MERAIH SUKSES DI USIA MUDA
Siapa bilang untuk meraih sukses harus menunggu usia tua? Siapa bilang untuk menjadi kaya dan mempunyai harta benda melimpah harus menempuh hari-hari yang sangat panjang dan melelahkan? Ternyata, sukses, kaya dan terkenal bisa diraih saat masih muda dan tidak memerlukan waktu yang panjang dan melelahkan.
Merry Riana misalnya. Wanita energik ini ketika usianya menginjak 24 tahun sudah berhasil menjadi milyuner. Tidak tanggung-tanggung kesuksesan itu diraih tidak di negerinya sendiri, Indonesia, melainkan di Singapura.
“Saya sukses seperti sekarang karena keterpaksaan,” ujar Merry menjawab pertanyaan Host Kick Andy, Andy F.Noya. Menurut Merry ia terpaksa mengungsi ke negeri jiran Singapura karena saat itu Jakarta sedang dilanda kerusuhan Mei 1998. Merry yang kala itu tidak cakap berbahasa Inggris dan tidak banyak uang benar-benar prihatin. Setelah berhasil menyelesaikan kuliahnya di Nanyang Technological University Singapura dan menggondol gelar insinyur, Merry memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Ia mulai merangkak sebagai sales dari bermacam barang. Namun berkat keuletan dan ketabahan, Merry yang kini menjadi Duta Produk LG di Asia ini bisa meraih sukses dan mendirikan Merry Riana Organization bersama teman-temannya.

Sementara Putu Putrayasa mendapat penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia, MURI karena prestasinya di bidang pendidikan. Pemuda kelahiran Sumbawa, 17 Desember 1976 ini mendirikan sebuah perguruan tinggi di Baturaja, Sumatera Selatan ketika berusia 26 tahun. Putu, yang lahir dari keluarga miskin mendirikan perguruan tinggi karena “dendam pribadi”.
“Saya anak petani miskin. Ayah saya terpaksa menjadi kusir delman untuk mendapatkan tambahan uang. Saya dan adik-adik kesulitan untuk meneruskan sekolah yang lebih tinggi”, kata Putu yang pada usia 22 tahun mempunyai beberapa toko komputer yang omzetnya mencapai miliaran rupiah. Saat ini Putu sering keliling Indonesia untuk membagikan ilmu kewira-niagaan berdasarkan pengalaman pribadinya.

Dari Bogor dilaporkan, seorang pemuda yang masih berusia 26 tahun sudah menjadi pengusaha properti. Dan, usaha properti berupa komplek perumahan itu benar-benar ia rintis dari bawah, bukan perusahaan warisan orangtua. Pemuda itu adalah Elang Gumilang. Elang yang mempunyai bakat wiraswasta sejak kuliah di Institut Pertanian Bogor itu tertarik menekuni bisnis perumahan karena kagalauan hatinya.
“Saya sangat sedih ketika melihat banyak warga kita yang tidak mempunyai tempat tinggal. Bahkan saya sering melihat saudara-saudara saya itu tidur di kolong jembatan dan di gerobak-gerobak pemulung,” ujar pemuda yang lahir di Bogor pada 6 April 1985 itu sedih.
Itulah sebabnya bersama teman-temannya ia bertekad mendirikan perusahaan kontraktor untuk membangun rumah bagi orang yang tidak mampu.

Jangan menganggap sebelah mata bisnis pulsa elektrik. Banyak orang menganggap remeh bisnis pulsa elektrik karena keuntungannya sangat kecil, yaitu “hanya” seribu rupiah per transaksi.
Tapi di tangan Febrian Agung Budi Prasetyo bisnis pulsa elektrik omsetnya bisa mencapai milyaran bahkan trilyunan rupiah. Febrian, pemuda asal Solo, Jawa Tengah yang saat ini berusia 27 tahun itu berhasil menjadi milyuner muda. Febrian yang mengaku anak seorang sopir Bus Damri itu berhasil menemukan sistem penjualan pulsa elektrik yang sangat efektif. Servernya bisa melayani transaksi sampai satu juta transaksi perhari. Dan, ia berhasil merekrut ribuan agen pulsa elektrik dengan sistem multi level marketing dari Sabang ningga Merauke.

Apa yang dilakukan beberapa narasumber Kick Andy di atas adalah benar-benar menimbulkan decak kagum. Masih muda, kaya dan menciptakan peluang kerja. Kami berharap setelah nonton episode Kick Andy ini akan muncul entrepeneur-entrepeneur muda yang ulet, tangguh dan tidak cengeng.

Posted in Business Stories | Leave a comment

Pendiri Groupon – Andrew Mason

from: www.okezone.com

Kamis, 16 September 2010 – 17:41 wib
Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

“Saya pikir saya akan menjadi musisi rock sampai saya berumur 25 tahun atau lebih,” kata Andrew Mason, CEO groupon.com dalam sebuah wawancara dengan majalah Forbes.

Mason, pria berusia 29 tahun asal Northwestern tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi CEO sebuah perusahaan besar Amerika Serikat di usianya yang terhitung cukup muda. Namanya kini disebut-sebut sebagai penerus Mark Zuckerberg selanjutnya. Muda, kaya raya dan memimpin sebuah perusahaan yang berjaya di dunia maya.

Groupon.com adalah sebuah situs yang menawarkan diskon-diskon kepada konsumen. Groupon memberikan potongan harga. Setelah membeli kupon diskon yang mereka, pembeli dapat menukarkan kupon yang mereka miliki ke tempat yang tertulis pada kupon. Selain itu, Groupon juga menjual potongan-potongan harga berbagai tiket-tiket acara besar. Mei silam, Groupon berhasil menjual sekira 6.561 tiket untuk acara eksebisi karya seni dari Mesir Kuno di Amerika Serikat. Harga yang dijual Groupon, 18 persen lebih murah dari harga tiket asli di TicketBox.

Saat ini situs yang berasal dari kata ‘Group’ dan Coupon’ tersebut melayani sekira 22 negara dan 88 kota. Sejak diluncurkan pada 2008, nilai Groupon saat ini diperkirakan mencapai sekira USD1,35 miliar. Groupon mempekerjakan 250 tenaga pemasaran.

Sosok Mason sangat jauh dari dunia teknologi dan gegap gempita ‘lembah silikon’. Mason dibesarkan di wilayah sub urban Pittsburgh. Ayahnya adalah seorang pedagang berlian, sementara ibunya berprofesi sebagai fotografer. Kehidupannya lebih banyak berkutat dengan dunia musik. bersama teman-temannya ia membentuk band Rock di wilayah Northwestern.

Ia hanya mengenal dunia komputer secara otodidak. setidaknya itulah yang membedakannya dengan Zuckerberg yang setiap hari berkutat dengan kode-kode komputer untuk mengembangkan Facebook.

Naluri bisnis Mason sudah muncul sejak usia 15 tahun. Di usia tersebut ia sempat memasarkan roti kepada tetangga-tetangganya. Padahal roti-roti yang dijajakannya tersebut hanya dibelinya dari toko roti Costco di dekatnya.

Hidup Masson mulai berubah sejak tahun 2006 ketika ia mendapatkan beasiswa master di Universuty of Chicago. ketika itu ia mendapatkan suntikan dana segar dari pendiri InnerWorking, Eric Lefkofsky senilai USD juta. Dana tersebut kemudian digunakannya untuk mendirikan ThPoint.com pada 2007 sebuah platform online untuk tujuan-tujuan sosial dan kampanye.

ThePoint.com inilah yang menjadi cikal bakal Groupon. Kini Mason masih mempunyai strategi lainnya untuk memajukan Groupon. Ia akan terus melakukan konsolidasi dengan perusahaan-perusahaan lokal Pada bulan Mei dia membeli Berlin Citydeal, sebuah situs e-commerce dengan 600 karyawan untuk melayani 80 kota-kota Eropa. Mason mengatakan ia bisa menggempur lagi dari luar negeri tapi menurutnya itu sulit. “Sulit untuk mencari tahu kebiasaan konsumen lokal,” kata Mason. (srn)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ex Google that help make Facebook bigger

From: www.Okezone.com

Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

Hampir setiap Senin pagi, sebelum jarum jam mengarah ke pukul 10.00 waktu setempat, Sheryl Sandberg wajib mengirimkan email ke bos besar Facebook, Mark Zuckerberg.

“Kami selalu rutin mengirimkan email. Saya hanya menulis ‘Coming In?’ dan ia hanya membalas ‘On my Way’,” kata Sanberg

Ritual seperti itu selalu terjadi sejak Sandberg bergabung di Facebook dua tahun silam sebagai chief operating officer. Senin menjadi waktu yang sibuk baginya, sebab biasanya petinggi Facebook selalu melakukan evaluasi. Tak hanya Zuckerberg tapi juga chief executive lainnya. Umumnya yang dibicarakan adalah kelanjutan pembicaraan rapat akhir pekan yang juga dilakukan setiap Jumat malam. Topik-topik seperti, strategi, SDM, dan kesepakatan dengan perusahaan lain menjadi makanan sehari-hari perempuan kelahiran 1969 tersebut.

Nama Sandberg memang jauh dari sorotan Media, jika dibandingkan dengan Zuckerberg. Tapi perlu diketahui ditangannyalah semua urusan operasional Facebook dipegang. Sandberg adalah sosok sahabat paling berharga Zuckerberg. Pertemuan rutinnya dengan Zuckerberg yang selalu tertutup telah membantu menjaga pertumbuhan pesat Facebook hingga mampu membius 500 juta pengguna.

Sejak mantan Vice President of Global Online Sales and Operations Google itu mengambil alih operasional Facebook, ‘kehidupan’ situs jejaring sosial itu mulai menunjukkan perbaikan. Facebook mencapai salah satu tahap yang bisa disebut ajaib. Di masa pertumbuhan itu, jumlah tenaga kerja meningkat enam kali lipat, menjadi hampir 1.800. Untuk pendapatan, tahun ini Facebook diprediksi meraup USD1,6 miliar . Jadi bisa dilihat bagaimana sentuhan tangan lembut Sandberg menangani operasional di situs yang didirikan sejak 2004 tersebut.

Salah satu alasan tingginya pertumbuhan penjualan di Facebook adalah hubungan dekat Sandberg dengan banyak pengiklan terbesar di dunia. Pengalaman Sandberg sebagai eksekutif senior di Google membawa kontribusi besar untuk kestabilan Facebook, yang telah menderita lama akibat kekacauan hengkangnya beberapa eksekutif dan karyawan di masa-masa awal berdiri.

“Salah satu alasan perusahaan melakukannya dengan baik adalah karena mereka berdua bergaul dengan baik,” kata Mike Schroepfer, vice president for engineering Facebook mengomentari Sanberg dan Zuckerberg seperti dilansir New York Times, Senin (4/10/2010)

Istri dari CEO SurveyMonkey, David Goldberg ini sangat fokus pada pengembangan bisnis, perluasan internasional, dan memupuk hubungan dengan pengiklan besar. Selama ini Zuckerberg dianggap hanya fokus pada apa yang paling disukainya, pengembangan Web dan platform tanpa memfokuskan pada hal-hal besar untuk kemajuan Facebook.

“Kombinasi antara Mark dan Sandberg adalah alasan utama Facebook bisa tumbuh menjadi besar,” ujar Donald Graham, the chairman of the Washington Post Company.

Saat ini, ibu dua orang anak itu sedang memiliki tugas besar untuk menyulap citra Zuckerberg setelah kemunculan film ‘The Social Network’ yang dianggap menyudutkan bosnya. Di Film tersebut Zuckerberg digambarkan sebagai seorang penyendiri yang mungkin telah mencuri ide Facebook dari orang lain.

“Dia malu dan tertutup dan dia sering tidak tampak sangat hangat untuk orang yang tidak dikenal, tapi dia hangat,” kata Sandberg menanggapi komentar miring mengenai Zuckerberg.

“Dia benar-benar peduli tentang orang-orang yang bekerja di sini,” bela Sandberg.

Sebagai seorang sahabat, jebolan master Harvard University itu akan membela mati-matian Zuckerberg. Sandberg bahkan tak segan memberikan masukan pada Zuckerberg agar bisa tampil menarik, cerewet dan tetap tenang di tengah pusat perhatian.

Kehadiran Sandberg di Facebook ini juga dianggap berbagai kalangan sebagai faktor yang sedikit mampu meredam persaingan antara Google dan Facebook. Pada saat Sandberg meninggalkan Google, unit yang dipegangnya telah berkembang dari segelintir orang atau sekira 4.000 karyawan, menjadi seperempat dari total karyawan Google. Divisinya menyumbang lebih dari setengah pendapatan perusahaan. Dia juga membantu untuk mendirikan lembaga Filantropi Google.

Eric Schmidt, Chief Executive Google, mengatakan Sandberg adalah ‘superstar’ Kendati demikian ada sedikit ‘cacat’ pada diri Sandberg ketika ia membajak sejumlah eksekutif Google dan karyawan. Setidaknya ada 200 mantan karyawan Google yang sekarang bekerja di Facebook. (ugo)

Posted in Business Stories | Leave a comment

Sean Parker, Jenius Yang Misterius

Taken from www.Okezone.com

date : November 15, 2010

Sean Parker
Seorang karyawan di Virginia High school tiba-tiba memanggil Sean Parker dari ruang kelasnya. Ia menyodorkan secarik kertas yang mengharuskannya menemui Ayahnya yang menunggunya di luar halaman sekolah. Ketika itu, usianya baru menginjak usia 16 tahun.

Di saat mata pelajaran ‘Peradaban Dunia’ itulah, ia beranjak meninggalkan ruang kelas Sekolah Menengah Atas dan menemui ayahnya. Betapa terkejutnya Sean ketika ayahnya datang bersama sejumlah anggota FBI dengan membawa perangkat komputer miliknya. Itulah kali pertama ia berurusan dengan pihak keamanan setelah ia membobol sejumlah jaringan komputer perusahaan multi-nasional dan bahkan database militer.

Sean Parker mengenal dunia komputer sejak usia 7 tahun. Ayahnya merupakan orang yang paling berperan dalam mengajarinya tentang program-program komputer dan seluk beluk internet.

Kejeniusannya sebagai ‘Hacker’ otodidak tersebut justru membawanya melalang buana di industri dunia maya hingga saat ini. Nama Sean parker kian melonjak setelah sosoknya muncul dalam film besutan David Fincher, ‘The Social Network’ yang baru dirilis beberapa waktu lalu.

Sosok Sean yang dimainkan penyanyi Justin Timberlake begitu membius sejumlah penonton. Dalam film tersebut, Sean digambarkan sebagai ‘Guru’ Zuckerberg yang akhirnya membawa Facebook berada di papan atas industri internet.

Pria kelahiran 3 Desember 1979 pertama kali mengawali bisnisnya di dunia maya saat berusia 19 tahun. Ketika itu, ia bersama temannya, Shawn Fanning mendirikan layanan berbagi musik Napster. Ia membawa Napster pada kejayaannya di mana ia menggerakan situs tersebut sebagai mesin uang.

Uang, uang dan uang. Setidaknya itulah ambisi besar Sean dalam berbisnis. Nafsu besarnya untuk memiliki sebuah mesin uang raksasa terus berlanjut hingga ia berhasil memegang kendali Facebook untuk beberapa waktu di masa awal berdiri.

“Jutaan Dollar tidaklah Cool. kamu tahu apa yang cool? Miliaran dollar,” kata Sean kepada Zuckerberg dalam sebuah dialog dalam Film Social Network.

Di mata kawan-kawannya, Sean tak hanya dikenal sebagai seorang ahli komputer dan jaringan internet. Tapi ia sangat lihai dalam melobi orang. Zuckerberg sendiri mengakui bahwa Sean adalah sosok yang jenius dan penuh misteri.

“Hanya sedikit orang yang secerdas dia,” kata Zuckerberg mengenai sosok Sean Parker.

Namun, kecintaannya pada dunia malam dan pesta justru membuatnya terpuruk. Setelah sukses berkolaborasi membawa Facebook menapaki bisnis internet. Sean tersandung masalah narkoba. Itulah yang membuat Zuckerberg mendepaknya dari Facebook.

Agustus 2005, Sean tertangkap tangan memakai kokain. Namun ia membantah menggunakan barang haram tersebut. diakuinya, barang tersebut digunakan oleh temannya. Sean dibekuk di wilayah North Carolina bersama beberapa temannya termasuk seorang wanita muda yang tak lain asistennya di Facebook.

Usia di depak dari Facebook, Sean menghabiskan waktunya dengan  mencari dan mengelola investasi di Founder Fund. Sementara hasil karya kejeniusannya kini telah berkembang menjadi raksasa internet, Facebook, yang dulu pernah merasakan tangan dinginnya, kini berhasil meraup 500 juta pengguna di seluruh dunia. (ugo)

Posted in Business Stories | Leave a comment

Chit-Chat Ringan ala Buffet, Forbes, dan Jay-Z

Jay-Z, Buffet, dan Forbes berbincang-bincang. Foto: Forbes.com
SIANG itu, tiga orang pria bercakap-cakap dengan seru. Sesekali salah satu dari mereka tampak tegang ketika berbincang dengan yang lainnya. Namun itu hanya terjadi sesaat, karena suasana kembali mencair dan obrolan pun makin hangat.

Begitulah suasana yang terjadi ketika pria-pria ini berkumpul. Kendati beda usia dan generasi, ketika sudah mencapai satu titik pembicaraan, yakni tentang bisnis.Selanjutnya, perbincangan soal kesejahteraan, kesuksesan, hingga soal amal pun menjadi topik hangat siang itu.

Adalah Steve Forbes, pemilik Majalah Forbes yang mempunyai ide untuk mempertemukan dalam satu meja saat makan siang antara investor kakap kelas dunia warren Buffet, dan rapper serta pengusaha di industri rekaman Jay-Z yang bertempat di Hollywood Diner, sebuah restoran bermotto pelanggan adalah seorang bintang.

Dilansir dari Majalah Forbes, seperti dikutip okezone, Kamis (7/10/2010), Buffet siang itu yang memesan steak ayam goreng dengan mashed potatoes tampak santai menghadapi anak muda sekelas Jay-Z yang terlihat gugup. Jay-Z, yang mengenakan jas setelan berwarna biru ini memang tampak tegang menghadapi pengusaha kelas dunia Buffet dan juga Forbes.

Namun, diceritakan oleh Forbes, baik Jay-Z ataupun Buffet sudah pasti tidak akan mengakui bila keduanya sangat gugup, hingga akhirnya Buffet-lah yang membuka suara. Buffet seakan tak bisa berhenti bicara ketika dirinya menceritakan soal masa kecilnya, di mana dia pernah mencuri sirup dari mesin Coke. Mereka pun akrab dengan cepat, dan setiap menit percapakan tersebut selalu diselingi canda tawa.

Usai acara makan siang tersebut rampung, Buffet mengajak Jay-Z dan Forbes mengendarai Escalade-nya dan sembari tertawa, dia menawarkan memberi tumpangan bagi keduanya untuk menuju ke “singgasana” tempat dia biasa melakukan segala aktivitas bisnisnya. “Duduklah di samping saya Jay, aku akan memberikanmu tumpangan,” guraunya kepada suami Beyonce Knowles ini.

Akhirnya, mereka pun sampai di kantor Buffet, di mana tempat ini akan digunakan Forbes untuk melakukan sesi wawancara dengan keduanya. Berikut sedikit petikan wawancara Forbes dengan Buffet dan Jay-Z.

Steve Forbes: Kalian berdua unik. Dalam generasi dan cara yang berbeda, kalian mencapai level kesuksesan dan bahkan menjadi legendaris. Apa yang telah kalian lakukan sehingga membuat kalian berbeda?

Warren Buffet: Saya cukup beruntung mengawali semua ini. Ayah saya kebetulan menggeluti bisnis investasi. Setiap hari Sabtu saya selalu main ke kantornya. Di usia tujuh tahun saya sudah memulai membaca buku-buku yang ada di kantor Ayah saya. Saya jadi tahu apa yang ingin saya lakukan saat kecil, dan itu merupakan keuntungan besar buat saya.

Menjadi pebisnis tidak memerlukan otak, karena ini tidak dibutuhkan dalam investasi. Yang Anda butuhkan hanyalah kestabilan emosi, di mana Anda dituntut untuk mampu berpikir secara mandiri, dan Anda harus benar-benar tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Cukup ikuti fakta dan insting saja, walaupun ini memang sulit untuk sebagian orang.

Forbes: Begitu banyak orang yang mengakui kredibilitas Anda, namun di kala krisis sekarang ini, mereka menjadi panik. Sementara Anda sudah melihat akan adanya potensi bencana di GE dan Goldman Sachs.

Buffet: Saya tidak terlalu tahu, karena saya tidak belajar di sekolah. Ini tidak pernah mengganggu saya ketika orang-orang tidak suka dengan pemikiran saya, selama saya tahu kalau itu memang sebuah fakta.

Ada beberapa hal yang memang saya tidak tahu, saya pun menjauhi itu. Saya akan tetap tinggal, dengan apa yang saya sebut lingkaran kompetensi. Pendiri IBM, Tom Watson bahkan mengatakan itu yang terbaik. Dia berkata, saya bukan orang jenius, tapi saya pintar di satu titik dan saya mendalami titik tersebut.

Forbes: Jay, Anda bergelut dalam bisnis yang sangat kompetitif. Tidak ada anak muda di Amerika yang dalam satu titik tidak ingin tidak menjadi bintang. Tapi Anda telah sukses dan melakukannya secara konsisten.

Jay: Saat saya mendengarkan Warren, saya melihat banyak kesamaan, di mana semua yang dikatakannya benar. Anda hanya perlu sebuah kejujuran untuk menjauhi segala kekacauan. Itulah kunci menjadi artis rekaman. Anda menceritakan kisah Anda atau menemukan kebenaran Anda saat ini.

Cerita saya sendiri bertolak belakang dengan Warren, karena saya mulai sedikit terlambat. Album pertama saya tidak kunjung kelur hingga usia saya 26, jadi saya punya banyak waktu untuk menjadi matang. Album ini melampiaskan segala bentuk emosi dan sangat kompleks, dan album hip hop secara tipikal tidak dibuat saat usia 16 atau 17 tahun. Usia itu tidak cukup berbagi pengalaman kesejahteraan dan kekayaan kepada dunia.

Saya punya banyak harta untuk dibagikan kepada dunia pada waktu itu, dan saya tidak akan pernah melupakan hal-hal ini seperti yang Anda bilang. Anda juga tidak akan pernah melupakan hal-hal benar yang sudah Anda yakini, hal-hal dasar yang sudah membuat Anda sukses.

Bagi saya, itu adalah kebenarannya. Bila kita mempunyai disiplin dan percaya diri sebagai diri saya sendiri dan apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Ketika saya masuk ke dalam studio, saya menemukan kejujuran dalam diri saya untuk sesaat, banyak orang di dunia yang tidak seberuntung saya dan belum tentu akan membeli apa yang buat. Bukan karena ini adalah hal baru, tapi ini adalah perasaan emosi yang sebenarnya, itu yang saya rasakan. Ini cara yang mengartikulasikan diri kepada dunia.(ade)

from www.okezone.com

Posted in Business Stories | Leave a comment

Yoris Sebastian, Jadi GM Termuda Se-Asia – interview from kompas.com

from www.kompas.com 

 Kelahiran Ujung Pandang, 5 Agustus 1972, ini punya sejuta inovasi, termasuk acara “I Like Monday” di Hard Rock Cafe. Pendiri OMG Creative Consulting ini menyabet beragam penghargaan, di antaranya British Council’s International Young Creative Entrepreneur, Asian Pacific Entrepreneur Award Winner (Most Promising Entrepreneurs), Young Marketers Award Winner dari IMA and Markplus, dan Future CEO to Watch dari majalah SWA. Wow!

Sekarang sedang sibuk apa?
Sedang konsentrasi di Oh My Goodness (OMG) Consulting yang saya dirikan. Saya membantu klien yang mau melakukan bisnis secara berbeda atau istilahnya ala “Oh my Goodness”. Saya percaya, bisnis yang dilakukan secara berbeda punya peluang sukses lebih besar ketimbang yang dilakukan secara biasa.

Bisa kasih contoh?
Yang terbaru adalah konsep Plaza FX di Jalan Sudirman. Kami konsultannya. Yang ingin kami tonjolkan adalah keunikan. Karena kalau FX mau bersaing dengan Plasa Senayan atau Senayan City, susah. FX kan size-nya kecil. Tapi selama dia punya keunikan, enggak masalah. Salah satunya kami bikin 12 ruang meeting. Kami juga sediakan 3 bus keliling sepanjang Sudirman dan SCBD selama jam kerja. Perjalanan bus bisa dicek lewat SMS. Jadi, lebih simple dan menolong kapasitas parkir FX yang kecil.

Kadang-kadang, dalam bisnis orang ingin semuanya. Padahal, sekarang eranya enggak bisa begitu. Harus punya ciri sendiri. Core segmen FX adalah orang-orang kantoran di daerah Sudirman. Nah, sekarang FX ramai banget. Itu membuktikan, selama kita punya konsep yang kuat dan unik, tapi tetap dengan perhitungan, harusnya kita juga bisa.

Jadi, lebih ke konsep bisnis ya?
Kurang lebih yang saya lakukan adalah membuat sesuatu yang tidak lazim. Jadi sekarang larinya sih lebih ke bussiness innovation concept. Orang sering nanya, “Kamu event organizer ya?” Saya bilang, saya bukan event organizer tapi event consultant. Saya lebih melakukan inovasi bisnis, tapi disesuaikan dengan karakter klien.

Kalau klien biasa pakai baju biru, jangan disuruh pakai baju oranye. Tetap pakai baju biru, tapi birunya diapain begitu. Jadi, OMG selalu bilang bahwa orang boleh berpikiran out of the box, tapi jangan out beneran. Eksekusinya tetep harus inside the box.

OMG seperti creative event planner. Contohnya Black Innovation Awards (BIA). Saya bilang, kalau bisa dikasih kesempatan lebih banyak kepada yang muda, saya yakin Indonesia bisa dapat lebih berkembang. Saya juga bisa berkembang karena ketika muda saya memperoleh banyak penghargaan. Nah, sekarang saya give it back lagi ke angkatan yang lebih muda, dengan membuat banyak awards.

Jadi konsultan apa lagi?
Selain jadi konsultan BIA, saya juga jadi konsultan untuk International Young Creative Entrepreneur Awards yang diadakan British Council, yang pernah saya menangi tahun 2006 di Inggris. Istilahnya saya naik pangkat terus. Tahun 2006 jadi peserta dan menang, tahun kedua jadi juri, tahun ketiga jadi event consultant.

Saya bantu di marketing dan sponsorship mereka. Supaya 2 tahun lagi kita bisa ngirim 8-10 orang. Saya sekarang mencari perusahaan yang punya visi yang sama supaya bisa membantu pendanaan. So far lumayan sih. Beberapa perusahaan mulai mendukung.

Apa lagi yang tengah Anda lakukan?
Banyak proyek yang “seksi dan seru” yang sedang kami garap. Dulu misalnya, saya bikin BC Bar. Itu bar pertama kali di Jakarta yang hanya buka Jumat dan Sabtu, tapi kok bisa menguntungkan. Orang kan bingung. Lho, kalau saya buka setiap hari enggak unik kan? Kalau buka Jumat dan Sabtu, orang malah penasaran. Malah saya ada ide bikin restoran yang enggak ada menunya. Tapi belum ada klien yang berani. He-he.

Omong-omong, kenapa sih namanya Oh My Goodness?
Saya sudah belasan tahun mencoba dan melakukan inovasi. Makanya ketika cari nama untuk perusahaan, saya enggak mau pakai nama sendiri. Saya ingin anak buah saya juga maju. Jadi saya bikin Oh My Goodness. Soalnya, semua yang saya bikin rata-rata aneh atau enggak biasa, tapi profitable dan penuh perhitungan.

Saya pernah kuliah akuntansi, makanya hitung-hitungan tetap benar. Tapi, tahu enggak kuliah saya enggak selesai lo. Waktu itu saya pikir-pikir, kuliah buat cari kerja. Ini kerjanya sudah dapat dan karier bagus. Dari pada keduanya setengah-setengah, saya pilih berhenti kuliah dulu. Tapi, saya bilang ke orangtua, saya akan kuliah di Universitas Terbuka. Kalau enggak, enggak bakal boleh. Tapi saya enggak menyesal karena ilmunya sudah dapat.

Terus, setelah drop out?
Niatnya memang sekolah lagi kan. Tapi, di usia 26 tahun saya jadi GM termuda di Asia dan termuda kedua di dunia (GM Hard Rock Café). Saya tanya lagi ke orangtua, “Masih perlu gelar enggak nih? Saya sudah GM nih. Kata mereka enggak usah he-he. Namanya orangtua, selalu baik. Makanya setiap kasih seminar saya selalu bilang, orangtua selalu baik, cuma sudut pandangnya beda. Jadi jangan dilawan, tapi lakukan pendekatan. Negonya begitu. Apalagi kalau masih tinggal bareng orangtua.

Bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri?
Saya ini tidak pernah ingin berhenti berinovasi. Kalau dilihat, dari dulu sampai sekarang, setiap tahun selau ada 1-2 inovasi. Bahkan untuk kegiatan menjadi pengajar, yang saya sebut sebagai program isi bensin, saya buat yang aneh. Misalnya saya buat seminar di bioskop. Peserta ikut seminar sambil makan popcorn.

Akhirnya, saya malah mendobrak mitos bahwa guru itu duitnya enggak bagus. Dulu saya memang pernah ingin jadi guru. Sekarang, saya bisa membuat seminar yang sales-nya enggak kalah dengan menggelar event! Bedanya, event saya, ya, seminar. Dulu, di HRC saya jual makanan dan minuman sampai pagi, sekarang saya mengajar atau workshop sampai jam 5 sore, sales-nya terkejar.

Ide-ide biasanya dari mana?
Saya baca berbagai sumber, ternyata kreativitas itu adalah kebiasaan, bukan faktor turunan seperti IQ. Pakai jam misalnya, hari ini saya pakai di kiri, besok pakai di kanan. Rute ke kantor sering saya ubah-ubah. Saya pergi ke luar kota kadang pakai pesawat, kadang pakai mobil. Saya gunakan momen itu untuk melawan rutinitas. Orang-orang yang terjebak rutinitas biasanya tidak kreatif.

Sekarang lebih ekstrem lagi, di OMG saya jarang ke kantor, saya lebih suka mobile. Di kantor, saya dipanggil Invisible Boss, alias bos yang enggak kelihatan. Saya bilang, kalau saya di kantor saya akan terjebak rutinitas. Saya ke kantor hanya kalau ada rapat. Malah waktu kantor masih lebih kecil, kursi saya berikan ke orang lain saking enggak pernah kepakai.

Mungkin juga karena sejak kecil saya suka main game, walaupun tetap ada porsinya. Game membuat saya berani mengambil risiko. Jadi, benar atau enggak, dari hal-hal kecil seperti itulah kreativitas saya muncul. Waktu sekolah di Pangudi Luhur, saya sudah ikut bikin PL Fair, misalnya.

Saya selalu bilang, start small, mulailah dari hal kecil. Jangan langsung gede. Itu yang saya pelajari dari pengalaman sendiri. Dari satu, bikin I Like Monday, akhirnya mendapatkan award achievement. Dari situ muncul tantangan, masak cuma I Like Monday? Akhirnya muncul yang baru. Setelah itu saya bikin program TV, Destination Nowhere. Pergi tanpa tahu tujuan. Jadi, level kreativitas saya makin diuji terus.

Apakah sudah merasa menemukan dunia Anda?
Kalau dibilang nemu, enggak pernah tahu, ya. Dulu saya suka fotografi, saya pikir saya bakal jadi fotografer. Masuk Hard Rock, saya pikir bakal masuk dunia entertainment (Yoris juga pernah membuat IP Entertainment), sempat dapat Marketer’s Award, saya pikir dunia saya di marketing.

Sebetulnya, dalam proses pencarian passion itu, yang penting kita melakukan apa yang kita suka. Juga, tetap harus bernilai ekonomis. Saya menyebutnya Happynomics. Kita mau sesuatu tapi harus ada ukuran ekonominya. Happy, tapi harus ada nilai ekonominya.

Apa yang Anda lakukan ke karyawan Anda?
Di kantor, karyawan saya harus senang knowledge, harus senang baca. Nah, tiap minggu kita membuat sharing session, membahas buku yang habis dibaca bergantian. Sekretaris juga ikut. Dengan banyak knowledge, akan banyak inspirasi, jadinya banyak inovasi. Visi kita adalah, senang knowledge, inovation, achievement. Kalau itu jalan, nantinya enggak harus bergantung ke saya, bisa jalan senidiri.

Dari sekian inovasi, mana yang paling menantang?
I Like Monday. Karena posisi saya waktu itu enggak tinggi-tinggi banget. Yang kedua, saya melawan banyak orang. Di HR itu kan terkenal karena penampilan band asing . Sementara saya percaya, musik lokal akan mendominasi musik industri, dan sekarang itu sudah terjadi, Untungnya argumentasi saya diterima. Pelajaran moralnya, jangan takut dengan umur. Yang penting kita punya reasonable reason. Dari situ saya dapat award banyak banget.

Ada target yang belum kesampaian?
Menikah. Walaupun target saya menikah usia 25 tahun biar usia dengan anak enggak jauh. Tapi itu tidak saya anggap sebagai kegagalan. In life we cannot win everything. Mungkin 1-2 tahun ke depan lah. Sekarang sedang konsentrasi bikin usaha sendiri. Mengalir saja.

Oh ya, saya juga sedang memunculkan minipreneur. Saya ajak ibu rumah tangga muda untuk bekerja dari rumah untuk beberapa proyek saya. Ini sekaligus mendukung program ibu menyusui. Ternyata banyak lho, yang berminat. Menjaringnya gampang, lewat Facebook. Jadi, mereka tetap dapat pemasukan tanpa harus kerja kantoran.

Kegiatan lain?
Saya paling senang travelling. Apalagi sekarang enak, punya usaha sendiri. Pacar juga punya usaha sendiri. Buat saya, travelling adalah part of seeing other cultures. Liburan buat saya bukan cari ide, tapi cari inspirasi. Apa yang kita bikin, sangat localized. Think globally, act locally. Jalan-jalan juga salah satu cara untuk nge-charge otak. Kebetulan pacar juga suka travelling.

Posted in Stories from my Mentor | Leave a comment

Kisah Sukses Alibaba.com

Sumber: Kompas

Foto KISAH SUKSES Gambar Mantan Guru JADI CEO OMZET MILIARAN DOLAR AMERIKAkisah sukses yang sangat membakar semangat karena seorang mantan guru sekarang jadi CEO dan punya perusahaan beromzet triliunan rupiah!

Ingin membeli kancing baju dari China? Atau mesin-mesin besar? Tinggal masuk ke alamat situs Alibaba.com. Dalam satu kali klik, terpampanglah ratusan, bahkan ribuan produsen China. Mulai dari peraut pensil hingga barang yang besar dan rumit pengejaannya. Minimal ordernya pun cukup besar, ada yang 500 unit atau bahkan 10.000 unit.

Sebagian pemasok di Alibaba.com adalah perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM). Alibaba.com telah menjadi situs business to business terbesar yang menghubungkan produsen di China dengan dunia.

Sama seperti dalam hikayat Seribu Satu Malam, ketika Alibaba meniru para perampok mengucapkan mantera ”Sesam, buka pintu”, terbukalah pintu ke negara pengekspor nomor dua terbesar di dunia itu.

Jack Ma, Mantan Guru yang Jadi CEO

Pengguna Alibaba.com sudah mencapai 8 juta dan pendapatannya terus meningkat. Akhir tahun lalu pendapatan Alibaba.com naik 39 persen menjadi 440 juta dollar AS. Belakangan Alibaba.com juga menyediakan Aliexpress untuk para konsumen yang diperbolehkan memesan satu unit barang saja.

”Kecil itu indah. UKM menyediakan mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia dan mereka adalah masa depan e-commerce,” ujar CEO dan pendiri Alibaba.com, Jack Ma, pada Pertemuan Tingkat Tinggi UKM APEC di Singapura, Kamis (12/11). Ma mengungkapkan, mekanisme pembiayaan atau dukungan kepada UKM belum maksimal karena belum ada mekanisme standar yang dapat digunakan.

”Pada tahun 1999 kita memprediksi bahwa pemenang dalam bisnis internet adalah udang, bukan paus. Delapan tahun kemudian pengalaman membuktikan, perusahaan yang mendapatkan manfaat utama dari e-commerce adalah UKM yang menggunakan internet untuk memasarkan produk mereka atau untuk menemukan relasi bisnisnya di seluruh dunia,” lanjut Ma penuh semangat. Penampilan mantan guru ini tetap sederhana, dengan menggulung lengan panjang bajunya hingga ke siku.

Menurut dia, UKM layak mendapat perhatian karena semua bisnis besar berawal dari langkah kecil. ”Seperti bayi, semua orang tahu bahwa bayi ini akan tumbuh. Semua pelaku bisnis akan sukses karena mereka yakin akan keberhasilannya. Mereka berhasil karena terus menjaga mimpi besarnya. Orang bisa tahan satu minggu tanpa makanan, tiga hari tanpa minuman, tetapi orang akan mati jika kehilangan harapan dalam satu menit saja,” tutur Ma.

Ma sudah mengalami hal ini. Situs Alibaba.com tidak serta-merta besar seperti sekarang ini. Menurut dia, kesuksesan Alibaba.com tidak lain karena ”Kami tidak memiliki uang, teknologi, dan rencana ke depan,” ujarnya suatu ketika. Jack Ma menyatakan tidak pernah sekali pun menyangka akan sukses di bisnis online. Dia mantan guru bahasa Inggris, bukan seorang teknisi komputer.

Minat Ma pada bahasa Inggris membawa dia keluar China dan memiliki pandangan lebih luas. Pada umur 12 tahun dia sudah tertarik belajar bahasa Inggris. Dalam delapan tahun masa kecilnya dihabiskan dengan bersepeda 40 menit menuju sebuah hotel di dekat Danau Hangzhou, sekitar 160 kilometer dari Shanghai. Ketika itu China baru mulai membuka diri dan mulai banyak turis yang datang ke China. Ma memberanikan diri menjadi pemandu gratis agar dapat cas-cis-cus mempraktikkan bahasa Inggris-nya. Pengalaman selama delapan tahun itu membuat pemikiran Ma lebih terbuka dan lebih mengglobal dibandingkan teman-teman sebayanya.

Ma membulatkan tekadnya belajar bahasa Inggris, tetapi perjalanan masuk menjadi mahasiswa tidaklah mudah. Dia harus mengikuti ujian masuk universitas sampai dua kali. Akhirnya, Ma diterima di Universitas Keguruan Hangzhou, semacam institut keguruan dan ilmu pendidikan pada masa lalu. Ma belajar menjadi guru sekolah menengah. Menurut dia, universitas tempatnya bekerja tidak begitu bagus kualitasnya.

Pinjam uang

Lulus dari universitas, Ma adalah satu-satunya dari 500 mahasiswa seangkatannya yang ditugaskan mengajar di universitas. Ketika itu gaji Ma sebulan sebesar 100-120 renminbi, setara dengan Rp 114.000-Rp 142.500 per bulan. Ma selalu memimpikan, setelah bertugas mengabdikan dirinya selama lima tahun, dia akan memulai bisnis hotel atau yang lain.

”Pada tahun 1992 perekonomian China sudah mulai bertumbuh, saya melamar banyak sekali posisi, tetapi tidak ada yang lolos. Akhirnya saya menjadi sekretaris general manager gerai penjual ayam goreng Kentucky Fried Chicken,” kata Ma. Dia juga menjadi penerjemah sebuah delegasi perdagangan.

Seorang teman kemudian memperlihatkan internet untuk pertama kalinya. Ketika Ma mencari kata beer di mesin pencari Yahoo, dia menemukan kenyataan bahwa tidak ada data tentang China. Mereka lalu membuat situs tentang China.

Ma semakin tertarik pada komputer dan meminjam uang 2.000 dollar AS dari kerabatnya untuk mendirikan perusahaan komputer. Padahal dia tidak mengerti tentang komputer ataupun surat elektronik. Dia bahkan tidak pernah menyentuh keyboard komputer sebelumnya. ”Rasanya seperti orang buta yang menunggangi macan buta,” katanya.

Perusahaan itu bersaing dengan perusahaan telekomunikasi raksasa China, China Telecom, selama satu tahun. Akhirnya, China Telecom menawarkan berinvestasi pada perusahaan Ma sebesar 185.000 dollar AS. ”Itu adalah uang terbanyak yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya,” kenang Ma.

Sayangnya, Ma hanya kebagian satu kursi dewan direksi. Setiap hal yang diusulkan langsung ditolak mentah-mentah. Ma mengandaikan keadaan itu seperti gajah dan semut. Mimpi memiliki perusahaan sendiri tidak juga padam.

Perjalanan Alibaba.com bukannya tidak tanpa hambatan. Pada tahun 2002 dana tunai hanya tersisa untuk bertahan selama 18 bulan. ”Kami memiliki banyak anggota yang menggunakan situs kami, tetapi tidak tahu apakah kami bisa mendapatkan uang. Kami mempertemukan eksportir barang dari China dengan pembeli dari AS. Model ini menyelamatkan kami. Pada akhir 2002 kami berhasil membukukan keuntungan sebesar 1 dollar AS. Setiap tahun keuntungan kami bertambah-tambah,” katanya.

Menjadi perusahaan publik juga titik balik penting. Alibaba.com berhasil meraup dana penawaran saham perdana 1,7 miliar dollar AS di Bursa Saham Hongkong pada November 2007. Itu merupakan penawaran saham perdana (IPO) internet terbesar sejak IPO Google di Nasdaq.

Ma telah berhasil mewujudkan mimpi besarnya menjadi kenyataan walaupun tidak mulus dan selalu ada hambatan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Meet Johnny Bunko – The last career guide you’ll ever need

Satu lagi tulisan yg saya suka dari mentor saya yaitu Yoris Sebastian:

from blog: http://yoris72sebastian.wordpress.com/tag/young-marketers-award/

Inovasi memang tidak pernah berhenti. Please welcome…. Johnny Bunko…. When Business Book collide with Comic. Sebenarnya buku sudah cukup lama… saya sempat lupa lantaran nggak masuk-masuk ke Indonesia.

Beruntung, saat Lentera Jiwa masuk Kick Andy dan ramai dibicarakan di milis-milis, blogs dan facebook tentunya… tiba-tiba saya ingat lagi dengan buku ini.

Langsung, saya buka my lovely white Macbook putih  dan pesan buku ini di amazon.com berhubung dimana-mana tidak ada yang jual.  Mungkin someday saya harus jadi Associate Buyer di sebuah toko buku di Jakarta biar pilihan bukunya seru-seru Johnny Bunko ini aja banyak banget yang nanya… sayang harus pesen ke amazon.

(Post ini baru saya lanjutkan setelah buku saya terima dan selesai baca)

Wah ternyata enak banget baca buku bisnis versi komik… selesainya cepat (1 malam langsung selesai) dan pesan intinya masuk dengan jelas.

Kebetulan buku ini cukup mirip dengan apa yang saya kerjakan selama ini:

Lesson no. 1. There is no plan

Yup, saya awalnya mengalir saja… I have no plan for my career… but I take a job yang saya suka… I join company who let me do interesting work in a cool place.  Sebut saja mulai dari Majalah Hai sampai akhirnya Hard Rock Cafe Jakarta.

Saya sempet bingung waktu ditanya apakah saya mau jadi fotografer? wartawan? atau restaurateur? Dalam kebingungan itu saya jalankan saja semua pekerjaan saya dengan sebaik mungkin… as long as i relly like the job… waktu tidak terasa… padahal awalnya gajinya sedikit lho…

We need to make a smart choice, bukan hanya dari besaran gaji semata.

Lesson no. 2. Think Strengths, Not Weaknesses

Ini yang mungkin sering dibilang orang, saya terbilang positive thinking… bahkan dalam sebuah program di O Channel, Vera mantan sekretaris saya di HRC dulu juga ingatnya begitu

“Successful  people don’t try too hard to improve what they’re BAD at.  They capitalize on what they are GOOD at”

Sebenarnya hanya based on reality bahwa setiap manusia itu punya strengths dan weaknesses, nah buat apa kita fokus ke kekurangan kita?

Memang agak susah ya, dulu waktu kecil para guru selalu fokus ke anak-anak yang kurang bagus nilainya.  Kalau matematikanya jelek, kita disuruh les.

Pas kerja, saya coba cara berpikirnya dengan menggunakan teori pelatih sepak bola (Untung juga seneng main Winning Eleven ) Setiap pemain punya kekuatan masing-masing… sama seperti karyawan, kita harus fokus ke strengths mereka.

Lesson no. 3. It’s not about You.

Kalau yang ini, sebenarnya saya belajar dari sebuah quotes film Star Wars “He Gives Without the Thought of Rewards”

Jadi saya enjoy pekerjaan saya… tidak berpikir untuk imbalan atau promosi… eh malah saya terus yang di promote

Malah saya dulu terbilang bandel di HRC… waktu sedang cross training di Bar, saya malah bolos pergi party ke Prambors Cafe bersama pacar saya… eh disana malah ketemu Mas Iwan, Training Manager HRC… Ooppps, gottcha… Untungnya walau saya tidak minta… Mas Iwan tidak aduin ke top level…

Jadi walau saya jadi GM lokal pertama di Hard Rock Cafe se-Asia, saya juga bandel kok Yang penting saya selalu berpikir whats best for the company… not for me.  Jadi kalau saya sukses dengan program I Like Monday, saya enjoy sebagai karya saya.  Bukan langsung datang ke boss dan bertanya “Buat saya apa nih boss? Kan I Like Monday udah sukses dan bikin profit gila-gilaan”

Lesson no. 4. Persistence Trumps Talent

Walau saya selalu ‘mengalah’ dan menjalankan sebaik mungkin perintah atasan, namun untuk beberapa ide yang saya sangat ‘percaya’ saya akan terus propose dengan berbagai alasan.

I Like Monday juga cukup lama persiapannya.  Malah sempet serem karena eventnya setiap minggu, sementara waktu itu persiapan mau bikin event Valentine aja perlu beberapa bulan.

So if you want it… you got to BELIEVE… you got to persistence… give more reasons to your bosses to approve you ideas.

Lesson no. 5. Make Excellent Mistakes

Yup, kalau dipikir-pikir sebelum menggelar I Like Monday… tetap ada 50% chance program tersebut gagal lantaran hari Senin memang hari yang sepi dan orang-orang males keluar.

Atau kira-kira mau nggak ya, orang-orang pergi liburan ke tempat yang  masih rahasia.  50% chance program MTV Trax Destination Nowhere akan gagal karena orang-orang gak ada yang mau ikutan.

Tapi saya terus melaju, dengan penuh perhitungan dan kalau masih gagal juga… at least I’ve tried my best to make excellent mistakes Karena kalau tidak mau punya resiko gagal akhirnya kita akan bikin hal yang sama-sama terus alias mediocre.  Wajar dong kalau gagal, we are trying to do something nobody else has done.

Lesson no. 6. Leave an Imprint

“Sekali ku hidup, sekali ku mati. Aku dibesarkan di Bumi Pertiwi. Akan kutinggalkan warisan abadi. Semasa hidupku sebelum aku mati”

Demikian sepenggal quotes dari sang Maestro, Gesang yang mengajarkan saya Eternal Heritage alias Warisan Abadi. Lewat lagu Bengawan Solo, ia meninggalkan warisan abadi buat negri tercinta ini.

Walau berharap hidup panjang, kita tidak pernah tau kapan kita dipanggil sama Tuhan.  Makanya semasa hidup, saya ingin bikin hal-hal yang nantinya bisa dikenang sepanjang masa.

“Bagi Yoris, karya monumental adalah cermin dari eksistensinya. Ia merasa ada dan diakui lingkungannya hanya jika mampu menciptakan sebuah karya besar yang pantas dikenang, Maka perjalanan karir diisinya dengan kreativitas, inovasi dan terobosan” demikian ungkapan Yuswohady, salah satu juri Young Marketers Award di majalah SWA edisi YMA.

Sejak di SMA PL, saya tidak mau coret-coret tembok bilang PL Bagus… saya suka orang lain yang bilang bahwa PL bagus…

Posted in Stories from my Mentor | Leave a comment

Bagaimana Bersikap Tegas

Sifat, semua orang punya sifat, dari kejam, jahat, baik, pemarah, suka nangis, gampang iba, Tak tega’an, atau semuanya yang bisa tergolong sifat, tentunya sifat-sifat itu mempunyai bagian sendiri-sendiri atas dampak yang diciptakan dari tindakannya.

ya..
Aku termasuk Orang yang Ga’ Tegaan [ini bukan narsis, tapi ini kenyataan], aku selalu menggampangkan apa yang tak seharusnya, aku selalu merasa iba meskipun aku tau, aku di rugikan, aku juga susah banget bilang “TIDAK”, susah sekali.

Udah sering sahabatku mengingatkanku,
“Kamu itu yang Tegas, Aku benci lama-lama liat kamu kayak gini”!

yah sepertinya ucapan sahabatku selalu kuabaikan, dengan gampangnya aku bilang

“ya sudahlah.. semua kan ada balasannya dari Allah, Allah maha tau dan semua tindakan itu ada balasannya”.

bahwa.. sesungguhnya sikap itu adalah bentuk rasa yang merugikan diri sendiri, sifat itu adalah bentuk pasrah yang mungkin akan menyakiti dan merugikan diri sendiri.

kapan aku akan bisa merubah sifat ini, kapan aku bakal bisa berkata TIDAK, untuk sesuatu yang menurutku salah, kenapa selalu rasa iba, kasian, dan tak tega mampu mendahului hati mulut yang seharusnya ku katakan Tidak.

bukankah hidup ini sebuah pilihan, bukankah kamu adalah pilihanmu, kebiasaanmu, cara berfikirmu, tindakanmu, dan semuanya yang kamu lakulkan, tak Tega enggak harus selalu di lakukan, ini mungkin sudah mencapai tak tega yang akan membuatku menangis.

seperti kata Pak Mario Teguh :

“Engkau yang tidak tegaan, sulit mengatakan tidak, dan tersiksa jika harus menolak yang tidak baik, sebetulnya sedang berlaku tidak tegas bagi kebaikanmu sendiri, yang akan menyiksamu dalam penyesalan. Karena, Tidak sampai hati menolak yang tidak baik, sama dengan sampai hati merusak hidupmu sendiri. Dan jika engkau sampai gagal, apakah mereka akan menolongmu?
Ini hidupmu. Tegaslah. Katakan tidak!”

jujur, kata ini membuatku bangkit, semangat, dan pengen sekali meminta hakku, meminta yang menjadi kepunyaanku, menolak sesuatu yang merugikanku atas alasan “menolong orang”.

Karena, Tidak sampai hati menolak yang tidak baik, sama dengan sampai hati merusak hidupmu sendiri. Dan jika engkau sampai gagal, apakah mereka akan menolongmu?

iya, mereka tak menolongku, mereka tak peduli denganku, mereka diam dan pura-pura tak tau, mereka tak seperti aku yang akan menolongku seperti aku menolongnya, karena mereka bukan aku!

Ini Hidupku, dan aku berhak atas Hidupku, aku berhak memilih, aku berhak menolak, aku berhak untuk mengatakan Tidak, dan aku harus belajar TEGAS!

bagaimana denganmu, apakah kamu udah bersikap tegas dengan dirimu sendiri ?
bersikap Tegas adalah pilihan, dan aku akan memilihnya, semoga bisa dan semakin pandai menyikapi tentang kehidupan, karena tak selamanya hidup adalah berkata “Iya”, masak di suruh masuk sumur juga bilang iya, aku jamin tu orang dah gila, dan aku gak akan membiarkan hidupku jadi gila :lol: .

From Blog: http://jombloku.blogspot.com

Posted in Motivation | Leave a comment